Home MENJAWAB Tanggapan JAI Tazkirah Bukan Kitab Suci Ahmadiyah
Tazkirah Bukan Kitab Suci Ahmadiyah
Kajian - Tanggapan JAI

 Sekelompok Orang memfitnah bahwa "KITAB SUCI ORANG AHMADIYAH ADALAH AL-TADZKIRAH YAITU WAHYU YANG SUCI". (Dalam Tadzkirah hal.1.)(Selebaran  Maklumat FPI).

JAWABAN :

Perhatikanlah baik-baik kalimat yang  tertulis di halaman sampul buku Tadzkirah! Disitu tertulis: TADZKIRAH YAKNI WAHYU MUQADDAS RU’YA WA  KUSYUF  HAZRAT BANI SILSILAH AHMADIYAH “.dan tidak tertulis “TADZKIRAH YAKNI KITAB MUQADAS……..dan seterusnya.” Bagi orang yang sedikit punya ilmu bahasa Arab akan mengerti apa itu SIFAT MAUSUF. Jadi sifat Muqaddas yang artinya suci dari Allah Swt. serta terbebas dari syaitani adalah tertuju kepada sifat dari Wahyu, ru’ya dan kasyaf yang ada di dalamnya dan bukan sifat dari buku atau kitab itu! (harap maklum, bahwa kata ‘buku’ di dalam bahasa Arab dan Urdu adalah ‘kitab’. Jadi artinya yang TEPAT dan BENAR serta AKURAT adalah “ TADZKIRAH YAKNI (YAITU) WAHYU SUCI, RU’YA DAN KASYAF  PENDIRI SILSILAH AHMADIYAH. Alhasil, sangat KELIRU kalau diterjemahkan atau dikatakan  KITAB SUCI ATAU KITAB SUCI TADZKIRAH!! Pendek kata, sudah menjadi harga mati  bahwa Kitab suci orang Muslim Ahmadiyah adalah Al-Qur’an yang 30 juz. Satu ayat bahkan satu huruf atau satu titik pun tidak ada yang dikurangi atau ditambah. Dan Jemaat Muslim Ahmadiyah dalam umurnya yang ke 119 tahun atau dalam Jublium 100 tahun Khilafatnya sedang menyelesaikan untuk menerjemahkan Alquran kedalam  100 bahasa dunia serta  telah berhasil   mengajarkan dan menyebarkannya di 190 negara di dunia. Sedangkan tentang Tadzkirah, seperti diterangkan di halaman 1 diatas yang artnya TADZKIRAH YAKNI(YAITU) WAHYU SUCI, RU’YA, KASYAF DARI PENDIRI SILSILAH AHMADIYAH awalnya adalah berupa catatan-catatan pendiri  Ahmadiyah tentang kasyaf, ilham, wahyu dan mimpi-mimpi yang benar yang beliau terima sendiri dari Allah Ta’ala dan beliau catat dibanyak buku, selebaran atau majalah-majalah yang diterbitkan di zaman beliau. Setelah 27 tahun beliau meninggal (jadi Hazrat Mirza Ghulam Ahmad tidak mengetahui), yaitu tahun 1935 catatan-catatan itu  dikumpulkan, dihimpun, dan diberi nama ‘Tadzkirah’. Sebelum tahun 1935 – saat Ahmadiyah telah berdiri di dunia selama 46 tahun – kumpulan catatan itu belum mempunyai nama. Jadi, nama Tadzkirah itu baru ada setelah dicetak untuk pertama kalinya pada tahun 1953. Sedangkan cetakan ke-2 dan ke-3 diterbitkan masing-masing pada tahun 1956 dan 1969. karena itu, mengatakan bahwa Tadzkirah adalah kitab sucinya Ahmadiyah adalah perkataan yang sangat janggal dan hujatan palsu yang sangat keji. Di India dan Pakistan sendiri tidak pernah ada hujatan semacam ini.

 

Pendiri Ahmadiyah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad MENEGASKAN : “tidak ada yang masuk kedalam Jamaah kami kecuali orang yang telah masuk Islam dan mengikuti Kitab Allah Al-Qur’an dan Sunnah-sunnah junjungan kami, Muhammad Saw. yang merupakan sebaik-baiknya ciptaan serta telah yakin benar berkenaan dengan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Pengasih dan Rasul-Nya, Hari Qiamat, Surga dan Neraka; dan ia (setiap Ahmadi) berjanji dan berikrar tidak akan memilih agama selain AGAMA ISLAM serta ia akan mati di atas agama ini, yaitu agama fitrah dengan berpegang teguh kepada Kitab Allah Yang Maha Tahu dan mengamalkan setiap apa yang terbukti sebagai sunnah, Al-Qur’an dan Ijma’ Sahabat yang mulia; dan siapa yang mengabaikan tiga hal ini, sungguh ia telah membiarkan jiwanya dalam Api Neraka”.  ( RUHANI KHAZAIN,19 : 315 )

 

 

Cari Di sini

Custom Search

Translation

English Arabic Bulgarian Chinese (Simplified) Croatian Czech French German Italian Portuguese Russian Spanish

Artikel lain

Petunjuk

Penulisan nomor ayat-ayat Al-Quran dalam Website ini berdasarkan Hadis Nabi Besar Al-Mushthafa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam riwayat sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, yang menunjukkan bahwa setiap basmalah pada tiap awal surat adalah ayat pertama surat itu. كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَعْرِفُ فَصْلَ السُّوْرَةِ حَتَّى يَنْزِلَ عَلَيْهِ بِسْمِ اللهِ الرَّحمْـاـنِ الرَّحِيْمِ “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui pemisahan antara surat itu sehingga bismillaahir-rachmaanir-rachiim turun kepadanya.” (HR Abu Daud, “Kitab Shalat”; dan Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak”)

Search Engine Islami Indonesia

Moslem TV

Archive



Jazakumullah by: owner. Link Web and Blog.