| “WAHYU” APA DAN BAGAIMANA? Bag I |
| Artikel - Artikel Islam | |||
|
Oleh Drs. Abdul Rozzaq Penulisan nomor ayat Al-Quran dalam website ini berdasarkan Hadis Nabi Besar Al-Mushthafa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam riwayat sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, yang menunjukkan bahwa setiap basmalah pada tiap awal surat adalah ayat pertama surat itu. كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَعْرِفُ فَصْلَ السُّوْرَةِ حَتَّى يَنْزِلَ عَلَيْهِ بِسْمِ اللهِ الرَّحمْـاـنِ الرَّحِيْمِ “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui pemisahan antara surat itu sehingga bismillaahir-rahmaanir-rahiim turun kepadanya.” (HR Abu Daud, “Kitab Shalat”; dan Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak”) Pengertian Wahyu makna aslinya adalah al-isyaratus-sarii‘ah (Al-Mufradat fi Ghara’ibil-Quran) artinya isyarat yang cepat yang dimasukkan ke dalam hati seseorang atau ilqoo’un fir-rou‘i artinya yang disampaikan dalam hati. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa Allah ta’ala berbicara kepada para hamba-Nya dengan tiga cara, yaitu: a). Dia berfirman secara langsung kepada mereka tanpa perantara; b) Dia membuat mereka menyaksikan kasyaf (penglihatan gaib) dalam keadaan jaga atau ru’ya (penglihatan gaib) dalam keadaan tidur, yang dapat ditakwilkan atau tidak atau kadang-kadang membuat mereka mendengar kata-kata dalam keadaan jaga dan sadar, di waktu itu mereka tidak melihat wujud orang yang berbicara kepada mereka (Ilham). Inilah arti kata “dari belakang tabir”; dan c). Tuhan mengutus seorang Rasul atau seorang malaikat yang menyampaikan Amanat-Nya. Sebagaimana firman Allah ta‘ala berikut:
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ Dan tidaklah mungkin bagi manusia agar Allah berfirman kepadanya, kecuali dengan wahyu langsung atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang Rasul guna mewahyukan dengan seidzin-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Dia Maha-luhur, Maha-bijaksana (Asy-Syura, 42:52)
Dalam praktiknya, semua cara Allah ta‘ala berbicara kepada para hamba-Nya itu pada umumnya orang menyebutnya dengan istilah wahyu. Dengan wahyu itu Dia menampakkan Wujud dan Keagungan-Nya kepada mereka. Allah ta‘ala dapat dibuktikan sebagai Tuhan Yang Maha hidup hanya jika Dia bercakap-cakap dengan hamba-hamba-Nya. Tidak masuk akal bahwa Allah ta‘ala tidak lagi berbicara di waktu sekarang, padahal Dia selalu berbicara kepada hamba-hamba pilihan-Nya di masa yang lalu. Tidak ada sifat Allah ta‘ala yang dapat dianggap tidak lagi bekerja. Anugerah Wahyu Ilahi dapat diterima bahkan sekarang ini juga, seperti halnya telah diraih oleh umat manusia di masa yang lalu. Wahyu itu dimaksudkan pula untuk memberikan kesegaran dalam kehidupan ruhani manusia dan untuk memungkinkan manusia bertaqarrub atau mendekatkan diri kepada Khaliqnya dan Rabbnya. Oleh karena itu dalam Al-Quran wahyu itu diibaratkan dengan air, sebagaimana firman-Nya berikut ini:
وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنْشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا كَذَلِكَ تُخْرَجُونَ Dan Dialah Yang menurunkan air dari awan dengan kadar tertentu, dan dengan itu Kami menghidupkan wilayah yang mati – dengan cara demikian pulalah kamu pun akan dibangkitkan (Az-Zukhruf, 43:12) Kata-kata ini berarti seperti halnya tanah yang kering dan gersang pun mulai hidup kembali dengan segar, bila hujan jatuh di atas tanah itu, demikian pula kaum yang secara akhlaq dan ruhani telah mati, memperoleh hidup baru dengan perantaraan wahyu Ilahi Yang Mahasuci.0
|
Popular
Cari Di sini




